• Slideshow

    Get the Flash Player to see the slideshow.

Godzila, Buaya dan Cicak di negara ini sedang naik pamornya. Nama tiga binatang ini menghiasai berbagai media massa. Tapi Godzila, Buaya dan Cicak bukanlah binatang sebenarnya. mereka hanya dijadikan perumpamaan oleh para penegak hukum di negara ini.

Godzila merasa paling besar dan benar. Buaya merasa paling kuat dan berpengaruh. Cicak walaupun kecil juga tidak mau kalah. Sungguh ironis, para penegak hukum yang seharusnya saling membantu dan bekerjasama dalam penegakan hukum seakan saling selap dan selip. Mereka merasa paling benar. Mereka merasa paling berjasa bagi negara. Mereka merasa paling pantas untuk menangani kasus-kasus hukum, padahal sudah ada aturan yang jelas yang mengaturnya.

Sebagai para penegak hukum mereka seharusnya mau intropeksi diri dan tidak boleh saling menyalahkan. Tentunya dalam suatu lembaga tidak mungkin semuanya baik, pasti ada yang melakukan kesalahan walaupun kecil. Ibarat warna putih pasti kadang ada satu titik hitam. Mereka harus kembali kepada tugas dasar dibentuknya lembaga masing-masing. Dan apabila dalam lembaga tersebut ada anggota yang melakukan kesalahan, maka dia harus diproses sesuai hukum. Hal ini tentunya bukan untuk melemahkan tetapi akan menambah kredibelitas lembaga tersebut. Karena hukum diperlakukan sama terhadap setiap warga negara.

Dengan adanya saling intropeksi dari para penegak hukum, diharapkan akan menimbulkan kekompakan para penegak hukum baik itu Kejaksaan, Polri ataupun KPK. Sehingga mereka akan saling membantu dalam menjalankan tugasnya masing masing dan juga menjadi lembaga penegak hukum yang dipercaya dan disegani masyarakat karena menjalankan tugasnya dengan baik. SEMOGA

Comments 1 Komentar »

Siapa yang nomor satu?  semua bilang : Saya!  Siapa yang paling manis? semua bilang : Saya! Siapa yang paling berkualitas? semua bilang : Saya! Itulah sebuah iklan kecap. Tidak ada yang pernah mengaku nomor dua, tidak ada yang mengaku kurang manis ataupun tidak berkualitas.

Sekarang ini hampir di setiap media massa kita disuguhi oleh berbagai iklan politik  dalam rangka kampanye pemilihan presiden. Para tim sukses masing-masing calon presiden sepertinya hanya menyuguhkan kampanye seperti sebuah iklan kecap. Berbagai pencitraan calonnya dibentuk sedemikian rupa. Yang biasanya jalan-jalan di mal-mal mewah, sekarang berjalan-jalan  di pasar tradisional yang becek. Yang biasanya jarang ngomong, sekarang banyak ngomong. Yang biasanya naik mobil mewah, sekarang naik becak.

Sungguh ironi, sebuah kampanye calon presiden yang seharusnya memaparkan program-programnya malah diisi dengan saling ejek, menonjolkan diri dan  membuat pencitraan sesaat.

Tidak perlu menggembor-gemborkan tentang ekonomi kerakyatan, tetapi dalam diri kita dan keluarga belum melaksanakannya. Tidak perlu menggembor-gemborkan bahwa saya adalah negarawan yang telah melakukan ini dan itu buat negara, karena seorang negarawan sejati tidak akan menghitung-hitung apa yang telah dilakukannya buat negara tetapi dia berusaha terus memberikan yang terbaik buat negaranya. Tidak perlu saling beradu argumen bahwa saya yang paling cepat atau saya yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan tentang negara, karena sebuah keputusan yang menyangkut negara tentunya mempunyai prioritas mana yang harus diambil dengan keputusan yang cepat dan mana yang harus diambil dengan melakukan berbagai pertimbangan.

Kampanye calon presiden seharusnya diisi dengan pemaparan program-program yang akan dilaksanakan dengan membeberkan cara untuk mencapainya, bukan hanya menyodorkan program-program yang bersifat global tanpa tahu cara melakukannya. Sehingga rakyat akan tahu bahwa calon presidennya mempunyai program-program yang jelas dan terarah yang mengarah terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur, bukan hanya disuguhi berbagai “kampanye kecap”. SEMOGA

Comments 12 Komentar »

“Aku pusing, aku ingin bunuh diri !” sebuah kalimat yang mungkin akan menghentakan hati setiap orang, karena kalimat tersebut bukan keluar dari seorang remaja ataupun orang dewasa yang pusing dengan masalah hidup. Tapi, kalimat tersebut keluar dari anak yang baru berumur 4 tahun. Selidik punya selidik ternyata anak sekecil itu bisa mengucapkan kata yang “kurang pantas” tersebut  karena  meniru kalimat yang ada di acara sinetron di sebuah stasiun televisi.

Hal tersebut diatas, mungkin hanya salah satu contoh dari dampak acara-acara televisi yang kadang memiriskan hati setiap orang tua terhadap perkembangan anaknya. Bukan hal yang baru lagi, bahwa acara-acara televisi di negara kita sepertinya telah lupa dari peran yang seharusnya. Setiap stasiun televisi sekarang sepertinya saling berlomba untuk mencari rating tinggi dan kue iklan. Mereka menyiarkan acara seperti sinetron, reality show, film yang kadang tidak sesuai dengan budaya kita dan tanpa memperhatikan dampaknya.

Mungkin kita bisa hitung paling berapa sih acara televisi seperti sinetron yang bermutu dengan yang tidak bermutu. Mungkin jawabnya kebanyakan sinetron yang disiarkan tidak bermutu dan mengumbar hal-hal yang diluar kewajaran. Mereka tidak peduli apakah cerita dalam sinetron itu hasil jiplakan atau tidak, yang penting bagi mereka adalah rating tinggi yang akan menghadirkan kue iklan yang banyak. (Apakah mereka mendukung plagiatisme?). Acara- acara reality show juga kadang mengumbar kata-kata kasar, perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilihat. Menggangu privacy setiap orang  boleh karena demi membuat sensasi acara tersebut.

Era kebebasan tentunya bukan arti sebebas-bebasnya. karena insan televisi mempunyai kode etik yang harus ditaati. Insan televisi kita tentunya adalah orang-orang yang anti plagiatisme dan mempunyai hati.  Sehingga mereka akan membuat acara-acara yang  bermutu dan hasil inovasi sendiri bukan hasil plagiat atau hanya ikut-ikutan.

Sebenarnya sudah ada peraturan dan badan pemerintah (KPI) yang bertugas untuk mengawasi acara-acara televisi. Namun, insan televisi sepertinya kurang menaati peraturan. Mereka akan menaati jika telah ada kejadian. Kita  bisa lihat televisi mana yang selalu mencantumkan  “tanda” dalam setiap acaranya. Tanda “Semua umur, Dewasa, Anak-anak,  Bimbingan Orang Tua tua” kadang hanya muncul antara lupa dan ingat. Mungkin mereka beralasan bahwa kewajiban orang tua untuk mengawasi anaknya dalam menonton televisi, tapi apakah tidak ada kewajiban bagi mereka untuk memikirkan dampak dari acara-acara yang disiarkannya?

Televisi telah menjadi menu wajib disetiap rumah. Maka untuk menangkal dampak buruk dari acara televis tentunya bukan hanya dari pihak orang tua tetapi juga dari  lembaga pengawas siaran televisi (KPI) dan juga kejujuran dari insan televisi untuk mengakui apakah acara-acara yang disiarkan bermutu atau tidak bermutu. Sehingga kedepannya acara-acara yang dibikin insan televisi tidak hanya menuntut rating tingi dan iklan yang banyak, tetapi mereka juga memperhatikan dampak dari acara tersebut. Sehingga peran televisi terhadap kemajuan bangsa akan menjadi nyata. SEMOGA

Comments 3 Komentar »

Gegap gempita menyambut pesta Demokrasi di Indonesia semakin meriah. Berbagai media masa dan  media cetak  mendapat berkah “hujan iklan” partai politik atau para calon legislatif. Jalan-jalan dipenuhi berbagai aktribut partai dan foto-foto para calon legislatif mencoba mencuri tatapan mata tiap orang.  Entah berapa miliar yang telah dikeluarkan oleh para Calon legislatif.

Tapi, hampir sebagian besar para calon legislatif baik yang baru ataupun yang sudah lama berkubang dengan politik beriklan dengan cara mengenalkan diri. (Apakah memang mereka selama ini tidak dikenal oleh rakyat?) Mereka mencari popularitas dan dukungan dengan memasang foto dan spanduk. Bermiliaran uang telah dikeluarkan para caleg untuk mendongkrak popularitasnya. Mereka takut tidak terpilih bila mereka tidak terkenal, karena memang tuntutan untuk meraih suara terbanyak untuk mendapatkan kursi yang mereka impikan.

Para calon legislatif katanya ingin memperjuangkan suara rakyat. Mereka ingin menjadi negarawan. Sehingga mereka harus bisa menjadi anggota Legislatif. Tetapi, apakah seseorang harus mempunyai kekuasan dahulu untuk menjadi seorang negarawan?. Sungguh pendapat yang keliru. Tidak harus berkuasa dahulu untuk menjadi seorang negarawan sejati. Mereka bisa menjadi negarawan sejati sesuai dengan peran masing-masing. Seorang petani bisa menjadi negarawan sejati dengan ikut berperan membuat swasembada pangan. Seorang guru bisa menjadi negarawan sejati dengan menjadi pendidik yang melahirkan putra putri bangsa terbaik. Seorang pemuka agama bisa menjadi negarawan sejati dengan menjadikan masyarakat yang religius. Seorang pengusaha bisa menjadi negarawan dengan membuka lapangan usaha dsb.   Yah, gelar negarawan sejati tidak bisa didapat dengan hanya menyebar foto, pamflet, spanduk dll. Negarawan sejati tidak butuh mengiklankan diri karena memang dia akan terkenal dengan sendirinya.

Alangkah bijaknya jika uang yang bermiliar-miliar yang dikeluarkan oleh para calon legislatif diberikan untuk rakyat tetapi  bukan sesaat yaitu dengan menciptakan lapangan kerja, membuat fasilitas umum dan kepentingan rakyat lainnya. Sehingga para calon legislatif tidak perlu mengiklankan diri karena rakyat telah mengenal mereka. Dan jika mereka menjadi anggota legislatif mereka telah mengenal rakyat dan akan memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan untuk mencari “balik modal”. SEMOGA

Comments 19 Komentar »

     Tangisan kepedihan dan teriakan ketidakberdayaan seakan mengiris hati, disaat kita melihat warga Palestina dibombardir oleh Israel. Kecaman demi kecaman mengalir dari berbagai negara atas peristiwa tersebut yang masih berjalan sampai sekarang ini. Dukungan untuk membantu palestina menggema diseluruh penjuru dunia.

     Namun, PBB yang katanya lembaga dunia sekarang ini seperti sapi ompong. PBB yang katanya penjunjung tinggi HAM sekarang hanya bisa mengecam segala tindakan tentara zionis. PBB yang katanya pengawal demokrasi disetiap negara sekarang seperti bingung mengambil keputusan.

     Sunggung ironis, lembaga dunia yang katanya pengawal demokrasi disetiap negara ternyata bekerja tidak secara demokratis. Adanya anggota Dewan Keamanan Tetap dan Hak Veto merupakan ironi dalam kehidupan berdemokrasi. PBB sepertinya hanya kumpulan negara-negara yang harus mematuhi keinginan anggota Keamanan Tetap yang mempunyai hak veto. Negara-negara anggota hanya punya keinginan dan harapan, sedangkan keputusan milik anggota tetap dewan keamanan. Apakah ini yang dinamakan Demokrasi? 

     Serangan Amerika ke Irak merupakan salah satu contoh ketidakmampuan PBB dalam menentukan peranannya. Resolusi-resolusi yang di keluarkan PBB sepertinya hanya berlaku untuk negara-negara kecil tidak untuk negara-negara super power dan penyumbang dana terbesar bagi PBB. Ketidakadilan dalam kepemilikan senjata nuklir merupakan ironi. Kenapa hanya negara-negara tertentu yang boleh mempunyai senjata nuklir, sedangkan negara lain tidak? Apakah ada jaminan negara-negara tersebut tidak menyalahgunakan kepemilikan senjata nuklirnya? Kenapa tidak semua negara saja dilarang membuat senjata nuklir? Inikah demokrasi di PBB?

     Reformasi ditubuh PBB sekarang ini menjadi suatu keharusan. Jangan sampai lembaga dunia yang menjadi pengawal demokrasi di setiap negara, tetapi di dalam dirinya sendiri tidak menerapkan kehidupan demokrasi. Kehidupan demokrasi dalam tubuh PBB tentunya akan sangat berpengarauh dalam kehidupan internasional, sehingga negara-negara anggota tidak hanya punya keinginan dan harapan, tetapi ikut juga mengambil keputusan.  Semoga kata Demokrasi tidak akan berubah menjadi Democrazy. Semoga

Comments 13 Komentar »

     “Semoga menjadi anak yang soleh/solehah dan berguna bagi nusa dan bangsa”. Sebuah doa suci yang sering terucap seiring kelahiran tunas bangsa. Sebuah doa yang tulus tentang harapan orang tua terhadap anaknya.

     Sesosok negarawan telah menjadi harapan bagi orang tua sejak anak telah lahir. Begitu mulia harapan doa mereka. Mereka sejak lahir telah menanamkan pondasi bahwa kelak anak-anaknya tidak hanya memikirkan diri sendiri, keluarga atau golongannya tapi juga negara tempat kelahirannya.

     Tapi, sekarang ini makna dari kata “negarawan” telah melenceng dari makna sebenarnya. Kata negarawan telah dimanfaatkan untuk mendapatkan kekuasaan. Kata negarawan telah dimanfaatkan untuk memperolah harta. Kata negarawan telah dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri/golongan.

     Sungguh ironis. Banyak orang sekarang ini ingin disebut negarawan sejati. Mereka mencari gelar tersebut dengan memasang foto diberbagai sudut kota. Mereka membagi-bagikan uang/bingkisan hanya untuk kesenangan sesaat rakyat. Mereka berlomba-lomba tampil diri dilayar kaca dengan mengeluarkan bermiliar-miliar uang buat ketenaran diri. Bukankah uang tersebut lebih bermanfaat untuk rakyat dengan membuka lapangan kerja? Mereka berteriak-teriak saling menyalahkan, bahwa mereka akan menjadi negarawan memperjuangkan kepentingan rakyat kalau mereka berkuasa. Sungguh ironis.

     Tidak harus tenar dulu untuk menjadi negarawan sejati. Tidak harus berkuasa dulu untuk menjadi negarawan sejati. Tidak harus berlimpah harta dulu untuk menjadi negarawan sejati. Seorang petani ingin menjadi negarawan sejati tidak harus menjadi pejabat. Dia bisa menjadi negarawan sejati dengan menciptakan lumbung pangan bagi bangsa dan negaranya. Negarawan Sejati akan lahir dari ketulusan dan keihklasan diri untuk berperan sesuai peranannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi keadilan dan kemakmuran bersama.

     Semoga doa-doa suci orang tua kita terkabul, sehingga akan muncul negarawan-negarawan sejati yang akan menjadikan negara ini menjadi negara yang besar, negara yang makmur, adil dan sentosa. SEMOGA

Comments 9 Komentar »

     Bhineka Tunggal Ika “berbeda-beda tetap satu jua” suatu slogan yang kita dengar sejak Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Slogan yang menggambarkan tentang wilayah nusantara yang terdiri dari ribuan pulau, bermacam-macam suku, adat, agama dan kepercayaan tapi tetap bermuara kedalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

     Bhineka Tunggal Ika mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kata demokrasi. Dalam demokrasi kita mengenal adanya pengakuan perbedaan. Namun, yang perlu kita ingat dalam kebhinekaan ada suatu tujuan yang ingin dicapai untuk kepentingan bersama.

    Namun, kata Bhineka Tunggal Ika sekarang sepertinya mulai diartikan lain oleh beberapa orang dan golongan. Bahwa Bhineka Tunggal Ika diartikan semua harus beda. Tujuan sebenarnya dari kata Bhineka Tunggal Ika sepertinya dilupakan 

    Ini bisa kita lihat dari banyaknya peserta pemilu 2009 yang lebih banyak dari pemilu sebelumnya. Padahal kalau kita lihat visi dan misi mereka hampir semua sama yaitu katanya ingin mejadikan kehidupan masyarakat lebih sejahtera, adil dan makmur. Apakah memang terlalu banyak perbedaan yang tidak bisa disatukan? Ataukah memang mereka sebenarnya hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya?

    Sekali lagi, Slogan Bhineka Tunggal Ika mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan berdemokrasi. Kebhinekaan dalam demokrasi bisa dilakukan dengan cara kita ‘berkaca diri’ terlebih dahulu sebelum mengimplimentasikan keinginan kita. Sehingga “pengakuan” perbedaan tidak akan membabi buta dan melenceng dari tujuan sebenarnya dari slogan “Bhineka Tunggal Ika” . Semoga

Comments 8 Komentar »

     “Hari gini nggak nyontek?? Cepe deh!” Sebuah kata-kata yang sangat miris untuk didengar dunia pendidikan kita. Sejauh itukah pemikiran tunas-tunas bangsa kita. Apakah pohon kejujuran telah hilang  dalam  dunia penddikan khususnya ataukah telah merambah kehidupan berbangsa dan bernegara?

     Dalam masa krisis ekonomi sekarang ini, kejujuran seakan barang yang langka. Kejujuran seakan dilupakan dalam pembangunan. Padahal kejujuran merupakan pohon pembangunan yang sangat bermanfaat, karena akan menghasilkan buah-buah kebaikan.

     Pohon kejujuran berbuah tunas-tunas bangsa yang unggul. Kejujuran dalam dunia pendidikan akan menghasilkan tunas-tunas bangsa yang unggul. Para guru akan lebih mencari kreatifitas dan inovasi dalam mendidik. Pelajar/mahasiswa akan belajar sungguh2 karena mereka dibekali kejujuran. Mereka tahu dan mengerti bahwa nyontek dan tawuran adalah perbuatan yang tidak sesuai tujuan dari mencari ilmu. Pelajar/mahasiswa akan lulus bukan hanya memegang ijazah tetapi juga telah dibekali berbagai ilmu.

     Pohon kejujuran berbuah keadilan. Para wakil rakyat akan mengetahui bahwa fungsi mereka adalah sebagai suara rakyat. Bukan suara golongan atau  partai. Mereka akan memutuskan segala peraturan yang pro terhadap rakyat demi keadilan dan kesejahteraan rakyat.

     Pohon kejujuran berbuah sarana dan prasana yang baik. Dengan dibekali kejujuran, segala proyek akan dikerjakan sebaik-baiknya, tanpa mengurangi bahan dan waktu. Sehingga akan menghasilkan sarana dan prasarana yang memenuhi standard.

     Masih banyak lagi buah dari pohon kejujuran. Tentunya pohon kejujuran tidak bisa langsung tumbuh menjadi besar. Sehingga kita harus bisa melahirkan tunas-tunas kejujuran. Tunas-tunas kejujuran harus dibangun mulai dari kelompok yang kecil yaitu keluarga terus sampai kekelompok yang lebih besar. Sehingga akan merambah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pada akhirnya pohon kejujuran akan menjadi pondasi dalam melakukan pembangunan untuk mewujudkan rakyat yang adil, makmur dan sejahtera. SEMOGA

Comments 3 Komentar »

     “Demokrasi”…kata yang terasa agung. Kata yang seakan memberikan harapan yang begitu indah. Kata yang penuh makna. Kata yang sering kita dengungkan dalam masa reformasi hingga kini. Demokrasi, kata yang begitu menyihir semua orang yang selama ini terkekang.

    Tapi, demokratiskah kita??? Demokrasi bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Karena kita adalah negara yang beragama. Dalam sila ke satu Pancasila jelas sudah bahwa negara kita berdasarkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sehingga dalam semua agama tentunya ada aturan dan batas-batas yang harus ditaati penganutnya. Sehingga demokrasi ada batasnya. Demokrasi juga dibatasi oleh Hak Asasi Manusia. Sehingga Demokrasi bukanlah kebebasan tanpa batas.

    Perkembangan demokrasi dinegara kita sekarang sepertinya mulai menyimpang dari makna demokrasi yang sebenarnya. Demokrasi diartikan kebebasan yang  tanpa batas. Suatu perbuatan yang sebenarnya menyalahi aturan, dilakukan pembenaran dengan alasan demokrasi.

    Demokrasi identik dengan demo. Demo untuk menyeruakan pendapat. Tapi, apakah demo itu harus selalu dibungkus dengan kekerasan? Hampir setiap hari kita disuguhi tampilan demo dibungkus kekerasan dan pengrusakan. Dari mulai orang yang sebenarnya sangat awam dengan kata demokrasi sampai dengan kaum yang katanya terpelajar. Apakah kekerasan adalah demokrasi??? Apakah demo memang harus dengan kekerasan dan pengrusakan???.

    Demokrasi bukan hanya milik orang miskin. Demokrasi bukan hanya milik orang kaya. Demokrasi bukan hanya milik mahasiswa. Tapi demokrasi adalah milik semua.

    Alangkah mulianya jika demo-demo tidak dibungkus dengan kekerasan dan pengrusakan. Bukankah kita negara yang katanya mempunyai perabadan timur? Perabadan yang sering kita sanjung-sanjung. Sungguh indah jika demokrasi dijalankan sesui dengan makna sebenarnya. Sehingga negara kita akan menjadi negara yang benar-benar demokratis. SEMOGA

Comments 3 Komentar »

     “Kemiskinan” kata yang hampir setiap hari kita dengar dan kita lihat. Televisi, koran, radio semua membicarakannya. Itulah realita dinegara yang  sering disebut  zamrud khatulistiwa. Negara yang katanya kaya sumber daya alam dan juga sumber daya manusia. Negara yang dihiasi berjuta flora dan fauna. Negara yang tanahnya mengandung banyak “barang berharga”.

    Kenapa kita harus menjadi miskin? dinegara yang banyak sumber dayanya. Apa yang salah? Apakah karena kita dijajah terlalu lama? ataukah karena kita dijajah oleh Belanda bukan Inggris? Itu adalah alasan yang sering kita dengar. Tapi, apakah kita pernah mengatakan “apakah karena salah kita sendiri?”

    Banyaknya sumber daya memang tidak menjamin suatu negara menjadi maju. Contohnya, negara jepang yang minim sumber daya, sekarang menjadi salah satu negara maju didunia. Lalu paya yang salah??

    Perilaku budaya ekonomi suatu negara sangat mempengaruhi perkembangan negara tersebut. Apakah akan menjadi miskin ataukah menjadi negara kaya. Karena suatu negara yang telah menerapkan perekonomian terbuka tentunya harus mempunyai pondasi ekonomi yang baik agar bisa bersaing dengan negara lain. Untuk membangun suatu Pondasi ekonomi yang kuat tentunya budaya ekonomi akan sangat mempengaruhi.

    Dalam keadaan perekonomian yang sekarang tidak menentu, kita pasti punya keinginan untuk bangkit dan menjadi suatu negara yang diperhitungkan dipercaturan dunia. Maka kita harus membuat pondasi ekonomi yang kuat dengan berbasis kerakyatan. Kita kembangkan perekonomia rakyat dan kita rubah budaya produksi dan budaya konsumsi kita selama ini. Budaya produksi para pengusaha yang biasanya hanya mengandalkan kuantitas harus kita balik menjadi budaya produksi yang mengedepankan kualitas. Sehingga barang-barang kita bisa bersaing. Budaya konsumsi kita yang selama ini berkiblat barang-barang negara maju harus kita rubah menjadi berkiblat ke barang-barang hasil produksi negeri sendiri yang kualitasnya tidak kalah dengan barang-barang negara maju. Yah, konsumsi yang berdasar pada merk kita ganti menjadi konsumsi berdasar kualitas. Dan juga budaya malu pergi ke pasar tradisional kita hilangkan.

    Kebangkitan dalam bidang ekonomi tentunya dipengaruhi banyak faktor. Tapi yang pasti, kita harus mau mulai dari diri sendiri untuk merubah perilaku budaya ekonomi. Karena dari situlah pondasi ekonomi yang kuat akan berkembang. Sehingga cita-cita negara yang adil, makmur dan sentosa akan tercipta. SEMOGA…(bukan ekonom)

Comments Tidak ada komentar »